Dari pertanyaan itu secara tidak langsung kita berpikir bahwa pemimpin sebelumnya belum mampu memimpin Indonesia dengan baik. Sebelum kita mencari pemimpin yang seperti apa yang kita butuhkan untuk negara ini, ada baiknya kita cari tahu terlebih dahulu kenapa kita mendambakan pemimpin baru yang bisa mempimpin Indonesia saat ini, tentunya dalam kondisi Indonesia yang seperti sekarang.
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Selain itu Indonesia juga merupakan negara majemuk, karena memiliki beragam budaya, suku, agama, bahasa, ras dan adat istiadat yang berbeda-beda. Jadi kita butuh pemimpin yang bisa menghargai dan melihat perbedaan tersebut sebagai sebuah kekayaan keragaman budaya bukan sebagai pemecah persatuan.
Semua pemimpin di Indonesia sampai saat ini hanya berusaha menyelesaikan akibat dari sebuah permasalahan Indonesia itu sendiri, padahal yang harus diselesaikan/dipecahkan adalah penyebab dari masalah itu. Sebenarnya kita tahu penyebab dari masalah-masalah tersebut tetapi kita tidak tahu solusinya dan itu merupakan dilema yang berkepanjangan dari zaman ke zaman di Indonesia ini. Kita sebagai generasi muda pun sebenarnya tidak berusaha sepenuhnya, kita sendiri tidak melihat masalah yang ada saat ini dari akar permasalahannya atau penyebabnya karena kita terlahir pada keadaan Indonesia yang sudah ”hancur” ini. Jadi secara tidak sadar kita menganggap keadaan Indonesia pada titik ini adalah biasa, padahal kalau kita lihat dulunya Indonesia merupakan negara yang makmur sebelum dijajah. Sekarang tepatnya setelah 17 Agustus 1945 kita belum benar-benar merdeka karena kemerdekaan kita pun bisa dibilang merupakan pemberian Jepang. Namun ya..setelah 17 Agustus 1945 tersebut kita mulai dari keadaan setelah dijajah dan bisa menjadi ”macan asia”. Kita sangat terlena dengan keadaan kita yg seperti ini. Kita sadar kita terus menerus jatuh tetapi kita saja tidak mau bekerjasama karena egosentris individunya sangat tinggi. Sekarang ini indonesia sedang dijajah secara halus oleh orang-orang luar. Misalnya saja Freeport yang kontraknya sudah habis 5 tahun lalu bisa diperpanjang dengan mudah. Jadi secara tidak langsung hasil tambang negara kita hanya untuk orang luar saja. Dengan iming-iming mendapat sekian % saja mau menyerahkan harta sendiri untuk orang lain, padahal kalau kita pikir-pikir keuntungan yang diambil orang tersebut sangat berlimpah. Selain itu sebenarnya SDM kita banyak yang berkualitas, namun karena egosentris tadi sehingga tidak dapat dihandalkan untuk Indonesia. Contoh, saat semester 4 saja banyak anak-anak ITB yang berprestasi sudah dilirik oleh perusahaan asing, karena hanya memikirkan diri sendiri dia menerimanya. Bekerja pada perusahaan asing gajinya lebih besar, selain itu dengan menerima tawaran tersebut mereka terjamin untuk bekerja setelah lulus. Selain permasalahan-permasalahn tersebut, ada permasalahan yang paling mendasar yaitu tidak bisa kita pungkiri bahwa hukum di Indonesia hanya sebagai simbol saja. Ibarat pisau yang tumpul di atasnya, namun sangat tajam di bawahnya. Hukum tidak berpengaruh buat kalangan atas, karena mereka bisa memberikan jaminan tetapi buat rakyat kecil hukum sangat mencekik. Koruptor bebas berkeliaran karena mereka punya uang dan kekuasaan. Itulah sebabnya kenapa Indonesia ada di deretan teratas negara terkorup se asia tenggara dan nomer 5 didunia.
Jadi pemimpin yang dibutuhkan Indonesia saat ini adalah pemimpin yang mengerti apa penyebab kehancuran indonesia ini dan tau solusi yang tepat untuk keadaan ini,tanpa mengutamakan keegoisannya dan mampu mengajak masyarakat untuk bersama membenahi keadaan sekarang dan meminimalisasi dampak dari penyebab tersebut tanpa harus mengorbankan rakyatnya.
Jika dilihat dari segi psikologisnya mungkin orang-orang yang berumur 35-40an sebenarnya tidak cocok untuk mimpin Indonesia karena umur tersebut merupakan tahapan krisis dalam hidup seseorang dimana dia mempunyai banyak tanggung jawab. Anak muda juga tidak masalah untuk jadi pemimpin indonesia, asalkan dia benar-benar punya mental yg matang dalam hal ini. Namun lebih baiknya lagi orang-orang yang umurnya diatas 50an dimana dia telah mencapai aktualisasi diri, pengalaman hidupnya juga sudah banyak karena pada umur tersebut anak-anak mereka sudah bekerja dan otomatis kewajiban mereka berkurang atau bahkan kebutuhan biaya hidup mereka bisa di berikan oleh anak-anaknya. Sehingga jika seumur mereka tersebut sudah dipensiunkan akan sangat disayangkan, selain itu saat mereka berhenti bekerja hanya akan menurunkan kerja otak dan stamina tubuh mereka secara drastis. Misalnya saja banyak orang-orang yang setelah dipensiunkan mengalami post power syndrome, mereka banyak mengeluh karena bingung mau mengerjakn apa dan badan terasa pegal-pegal.
Sabtu, 17 Mei 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

1 komentar:
cuKup kritis !!!!
hebat deyh buat si Papi,
oia bsk2 bikin tulisan ttg Menghargai Perbedaan ya Pi..
Posting Komentar